BIJI PADI

Tokaya membawa sekarung beras dari sebuah koperasi petani di Desa Sidojaya, koperasi yang mengelola penggilingan padi sederhana. Disana Tokaya bekerja paruh waktu menggiling padi. Dengan sepeda tua pemberian kakeknya Tokaya mengangkut sekarung beras dengan sungguh-sungguh. Tanpa sepengetahuannya beberapa butir padi yang menempel baju dan sepedahnya jatuh di halaman rumah Tokaya yang becek karena hujan semalam.
Cahaya matahari pagi menyapu seluruh desa tanpa memandang miskin atau kaya, baik atau buruk, semua mendapat sinar matahari yang cukup. Tidak terkecuali beberapa butir padi yang jatuh di halaman rumah Tokaya juga dapat merasakan hangatnya cahaya bulatan merah di langit timur. Satu hari, dua hari, tiga hari, biji padi tersebut mulai tumbuh seiring dengan musim tanam di desa Sidojaya. Tokaya duduk di teras rumahnya yang begitu sederhana dengan beberapa potong kue sederhana dan secangkir kopi buatan istrinya, matanya memancarkan sinar menyilaukan hati, mencerminkan semangat hidup Tokaya.
Tokaya melihat beberapa butir padi yang tumbuh di halaman rumahnya.
“Suamiku, kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanya istrinya yang sedang hamil.
“Benar” kata Tokaya “Kamu lihat biji padi yang mulai tumbuh di halaman kita?"
"Ya, tapi darimana asalnya?" Istri Tokaya balik bertanya.
"Mungkin biji padi itu menempel di baju atau sepeda, kemudian tidak sengaja jatuh disana."
“Jika itu menggagumu, aku akan mencabutnya” sahut sang istri.
“Jangan, biarkan saja tumbuh liar disana--lagi pula kamu sedang mengandung anak pertama kita. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan semacam itu” cegah Tokaya
Tanpa mereka sadari seorang petani kaya yang sama sekali tidak terlihat kaya mendengar percakapan mereka, petadi itu datang menghampiri Tokaya dan istrinya.
“Selamat pagi”
“Selamat pagi pak” jawab Tokaya bersahabat “Sillahkan - silahkan”
“Pagi ini indah sekali bukan?” tanya si petani.
“Iya bapak benar” Tokaya menyetujuinya “Maaf saya tidak bisa menjamu bapak dengan istimewa, tapi setidaknya kue buatan istri saya ini sangat lezat. Silahkan bapak mencobanya.” kata Tokaya sambil menyodorkan kue apem buatan istrinya.
“Benar benar lezat, istri anda pandai membuat kue” 
Tokaya mengangguk setuju sembari melempar gurau "Kue buatan istri saya tidak kalah enak dengan kue yang di jual di kota, asal dimakan saat lapar, dinikmati dengan syukur."
“Saya melihat ada batang padi yang tumbuh di halaman anda, apa bapak yang menanamnya?” tanya si petani. Petani itu sangat yakin jika itu adalah batang padi.
“Tidak! Batang padi itu tumbuh dengan sendirinya, mungkin saya secara tidak sengaja menjatuhkan beberapa butir padi sepulang bekerja dari penggilingan padi. Saya berpikir untuk membiarkannya tumbuh secara alamai seperti yang dikehendaki sang pencipta, meski saya tidak yakin, apa yang tumbuh disana. Padi atau ilalang”
“hems... Boleh saya melihatnya” pinta si petani
“Ya, tentu” jawab Tokaya.
“Jika bapak tidak keberatan boleh saya minta beberapa batang padi ini?”
“Boleh, tapi mau bapak apakan?”
“Ikut saya maka bapak akan tahu” jawab si petani.
Petani itu mencabut beberapa batang padi hijau muda, meninggalkan sebagian di halaman. Batang padi yang telah dibcabut kemudian di bawa ke sawah milik si petani. Tokaya mengikuti petani itu,nmemperhatikan apa yang dilakukannya. Petani itu menancapkan batang padi milik Tokaya di sudut sawah bersama batang padi lainnya yang sengaja ditanam. Petani dan pekerjanya merawat tanaman padi penuh harap, kelak dapat menghasilkan biji padi yang baik. Tokaya tidak mengerti maksud petani itu.
Suatu senja saat Tokaya dan istrinya duduk di teras, mereka melihat batang padi yang tumbuh di halamanya menjadi kering dan mati, meski ia tidak berharap padi itu berbuah tetapi mereka juga tidak ingin kalau padi itu sampai kering dan mati.
Ketika musim panen tiba Tokaya menjadi amat gelisah, istrinya sedang melahirkan anak pertamanya. Tokaya menggenggam erat tangan istrinya saat proses bersalin berlangsung, dalam hatinya mengucapkan doa agar istri dan bayinya selamat. Setelah istri Tokaya berjuang keras, terdengar tangisan pertama anak laki - laki mereka.
“Selamat pak Tokaya. Anak anda laki-laki” seorang bidan memberi selamat sembari menggendong bayi laki - laki yang berlumur darah dan meletakkannya di dada ibunya. Bidan itu melakukan pekerjaannya dengan baik.
Setelah dua malam di rumah bersalin sederhana milik bidan, Tokaya beserta anak dan istrinya diijinkan pulang, Tokaya dan istrinya tidak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka, beberapa tetangga datang melihat keadaan ibu dan bayinya, beberapa diantara mereka membawa kebutuhan bayi sebagai hadiah, tetapi petani kaya itu justru datang saat semua tamu sudah pulang.
“Pak Tokaya” kata si Petani “Bantu saya menurunkan karung-karung ini”
Tokaya segera membantu petani itu, semuanya ada empat karung penuh biji padi (gabah).
“Ini hadiah dari saya atas kelahiran putra pertama bapak dan juga karena bapak sudah mengijinkan saya mengambil batang padi di halaman rumah bapak.”
Tokaya terlambat memahami maksud si petani. Tokaya terdiam beberapa saat, tetapi segera berterimakasih. Setelah petani itu melihat bayi pertama Tokaya, ia berkata “Baiklah, sudah waktunya saya pulang” kata petani.
“Ya”
Tokaya memandangi anaknya, berkata dalam hatinya “BAPAK TIDAK AKAN MEMPERLAKUKANMU SEPERTI PADI DI HALAMAN RUMAH”

* * *

Seorang anak akan tumbuh, terus tumbuh dan berkembang secara alami, tetapi di dalam diri manusia terapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk. Dari kedua sifat itu, justru sifat buruklah yang cenderung tumbuh dan berkembang ketika anak itu dibiarkan seperti batang padi di halaman. Tetapi disipllin dan kerja keras petani menjadikan batang padi menghasilkan padi yang baru. Dengan disiplin dan kerja keras orang tua, maka seorang anak akan tumbuh dan menghasilkan buah.
Terimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat bagi anda yang saat ini menjadi orang tua atau anda sebagai anak.
By. Damar Prasetya
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

POTENSI DAN BAKAT TERPENDAM

“Markus, apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Lukas.
“Aku sedang mengamati anak - anak itu.” kata Markus sembari menunjuk beberapa anak yang sedang asyik dengan dunia mereka di sebuah taman bermain.
“Ada apa dengan anak - anak itu?” Lukas menjadi penasaran karena sikap Markus tidak seperti biasanya.
“Tidakkah kamu tahu jika anak - anak itu memiliki segudang potensi di dalam dirinya? Sedangkan aku tidak memiliki potensi dan bakat apapun untuk dibanggakan.”
“Jadi itu alasanya sehingga kamu begitu serius mengamati anak - anak itu?”
“Iya” Jawab Markus singkat
“Setiap orang memiliki bakat alami di dalam dirinya, hanya saja porsinya berbeda-beda. Aku tahu sebuah tempat yang menyimpan banyak sekali bakat dan potensi yang terpendam.”
“Benarkah? Dimana? Bisa kamu membawa aku kesana.” Markus sangat bersemangat “Barangkali aku bisa menemukan bakatku disana?”
“Tentu saja.” Jawab Lukas “Nanti malam jam 23:00 Wib kita berangkat, bawa air minum dan lampu senter sebagai perlengkapan.”
“Untuk apa?” Tanya Markus
“Di tempat itu banyak sekali bakat dan potensi, tetapi bakat dan potensi itu tersipman ditempat yang gelap sehingga perlu usaha untuk menemukannya.” Lukas memberi penjelasan kepada Markus
“Baiklah… Apapun itu, yang penting aku bisa menemukan potensi dan bakat dalam diriku.” 
“Ya” Lukas dan Markus sepakat untuk mendatangi sebuah tempat yang katanya menyimpan banyak sekali bakat dan potensi yang terpendam. Mereka pulang kerumah masing - masing untuk penyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa. Pukul 22:30 Wib Markus sudah tiba di tempat mereka biasa bertemu, di sebuah usaha percetakan kecil “PADUKA PRINTING” yang terletak di Jl. Kopi, Gedong Meneng, Rajabasa, di sebuah percetakan usang namun masih sangat produktif milik salah satu mahasiswa Darmajaya.
“Hai bro…” sapa Rahmat, pengelola Percetakan Paduka Printing.
“Gaya lu udah kayak mau mendaki Mahameru aja bro..” Markus memang sedikit berlebihan, ia mengenakan pakaian dan peralatan memanjat gunung lengkap dengan topi REI berwarna coklat.
“Saya mau mencari bakat dan potensi yang terpendam disebuah tempat.”
“Mencari potensi dan bakat?” Rahmat bertanya penuh antusias.
"Bakat dan potensi" Markus mengkoreksi.
“Ah, sama saja, potensi dan bakat atau bakat dan potensi. Boleh aku ikut?”
“Tentu saja.” Jawab Markus.
Tidak lama kemudian Lukas tiba dengan mengendarai motor matik andalannya--MIO J 2013 yang jarang di cuci.
“Sudah lama boss?.” Tanya Lukas
“Barusan bro..” Jawab Markus
“Memang mau cari potensi dan bakat dimana?.” Tanya Rahmat.
“Sudah, kalau mau ikut, ikut saja, tak perlu banyak tanya.”
“OK-OK” Rahmat terbata-bata.
Sekitar pukul 23:00 Wib mereka bertiga beranjak dari percetakan usang menuju ke suatu tempat yang konon menyimpan banyak sekali potensi dan bakat yang terpendam.
“Ini tempatnya....” teriak Lukas sembari menunjuk sebuah tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari percetakan usang.
“KU.. KU.. KUBUUUUUUUURAAAAAN……..?” Markus dan Rahmat serempak, mereka berdua saling memandang dan tampak kebingungan.
“Yang benar aja, mana mungkin ada potensi dan bakat yang terpendam ditempat seperti ini.” Rahmat memprotes keras seakan tidak percaya jika di tempat itu ada banyak sekali potensi dan bakat yang terpendam.
“Sudah ikut saja, apa kamu takut?” Sahut Markus
“Tentu tidak” Jawab Rahmat “Padahal aku takuuuuuut, terakhir aku ke rumah hantu saja sampai kencing di celana.” Rahmat berbicara pada dirinya sendiri. Ketiganya masuk ke area pemakaman umum kemudian bergegas mencari potensi dan bakat yang terpendam itu.
10 (sepuluh) menit berlalu mereka tidak menemukan apa - apa disana, hanya ada bunga kamboja dan gundukan tanah berisi mayat dan sisa - sisa kesedihan keluara yang ditinggalkan.
“Lu bohong bro” Kata Rahmat sembari menyembunyikan rasa takutnya.
“Tidak, aku tidak bohong kecuali kemarin yang waktu itu.” Jawab Lukas sambil mengernyitkan dahinya. “Sekarang mari kita duduk dan dengarkan. Gundukan tanah disekitar kita ini berisi mayat - mayat. Mayat - mayat ini tentunya pernah hidup sebelumnya sama seperti kita. Tidak jarang semasa hidupnya orang - orang takut mencoba sesuatu, orang - orang membatasi kemampuan dan pikiran mereka dengan informasi negatif dari berbagai sumber. Akibatnya banyak orang yang tidak pernah tahu potensi mereka sendiri hingga tiba ajal mereka. Orang - orang membawa potensi dan bakat mereka sampai ke liang kubur. Banyak diantara kita tidak pernah tahu apalagi memanfaatkan bakat dan potensi yang kita miliki sampai kematian datang menjemput, jadi tidak salah kalau di tempat ini ada banyak sekali bakat dan potensi yang terpendam.” Markus dan Rahmat tampak serius mendengarkan ocehan Lukas yang sebenarnya tidak bermutu.
“Seperti mutiara di dalam lautan, potensi dan bakat yang tidak diasah tidak berarti apa-apa. Lalu bagaimana agar aku bisa mengetahui potensi dan bakat yang ada di dalam diriku ini?” Tanya Markus
“Kamu harus berani mencoba.” Jawab Lukas “Bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan orang lain, namun dengan hasil yang lebih baik. Bakat umum adalah potensi dasar yang dimiliki manusia pada umumnya, sedangkan bakat khusus adalah potensi khusus yang hanya dimiliki oleh orang - orang tertentu saja, artinya tidak semua orang memiliki bakat khusus, seperti seni, pemimpin, penceramah dll.”
“Luar biadab.” (Luar biasa) Kata Rahmat
“Ada 7 jenis bakat yang dapat kita kembangkan dalam diri kita.
Pertama, Logis Matematis, dimana seseorang memiliki kemamuan untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan logis matematis. Seorang berkemampuan logis matematis mengerti tentang hukum sebab - akibat, suka bermain dengan angka - angka untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan.
Kedua, Spasial, (Bakat Relasi Ruang) Bakat untuk mengamati, menceritakan pola dua dimensi atau berfikir dalam dimensi. Mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi. Ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin.
Yang ketiga adalah bakat Linguistik (Bakat Bahasa) yaitu kemampuan untuk berbicara secara jelas dan terstuktur baik dalam bentuk verbal maupun non verbal (Tulisan). Memiliki kemampuan persuasif untuk meyakinkan banyak orang.
Keempat, bakat musikal, kemampuan untuk mengenali ritme, irama atau nada dengan cepat. Seorang yang memiliki bakat musikal belum tentu dapat bernyanyi (rata - rata dapat bernyanyi), tetapi kemampuannya menciptakan nada dan irama tidak diragukan lagi.
Berikutnya adalah bakat kinestik (Kemampuan Fisik) Kemampuan fisik dan respon yang hebat (Rekam otot) mengantarkan seorang kinestik menjadi atlet atau aktor yang luar biasa. Prestasinya dalam olahraga melebihi orang normal.
Bakat Entrepersonal Skill, kemampuan untuk membaca emosi orang lain dengan sagat cepat.  
Dan yang terakhir adalah bakat Interpersonal Skill, kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat berdasar emosional orang lain. (Terkait dengan Entrepersonal Skill)” Lukas menjelaskan tentang jenis-jenis bakat di dalam diri manusia.
“Woooow amblazing (Amazing)” Kata Markus.
“Cara terbaik untuk mengetahui potensi dan bakat yang kita miliki adalah mengenali diri sendiri, kemudian berani mencoba melakukan sesuatu. Bayangkan jika seorang Cristiano Ronaldo tidak pernah mencoba mendendang bola, dia tidak akan tahu kemampuan kinestiknya yang mengesankan. Aku terkesan dengan Cristiano Ronaldo. Bayangkan jika seorang BJ. Habibie tidak bernah mencoba membuat model pesawat, ia tidak akan pernah tahu kemampuan logis matematisnya yang luar biasa. Bayangkan jika Mario Teguh tidak mau berbicara di depan umum, tidak akan ada yang tahu jika dia memiliki kemampuan linguistik yang hebat.”
“Hahahaha…” Rahmat tertawa “Kalau begitu bakatku adalah spasial (Relasi Ruang) aku akan menjadi desain grafis yang hebat. Bagaimana denganmu Markus?” Tanya Rahmat
“Aku memiliki kemampuan logis matematis, aku akan menjadi teknisi yang hebat. Lalu apa bakat Lukas?”
“Tentu saja Linguistik.” Jawab Rahmat “Lukas berhasil meyakinkan kita jika ada tempat gelap yang menyimpan bakat dan potensi terpendam--tenyata tempat itu adalah pemakaman. Aku kecewa, kenapa tidak di Mall yang ramai.”
“Satu lagi.” Kata Lukas “Berbicara membutuhkan energi, dan sekarang aku lapar--aku harap ada orang yang bersedia menraktirku malam ini”
“Buseeet dah…”
“Lukas mengunakan kemampuan linguistiknya untuk mempengaruhi kita.” Sahut Markus “Ha ha ha ha……”
"Eh, jadi bakat itu sebenarnya bukan di kuburan tapi di dalam diri kita masing-masing." Celetus Rahmat 
"Ha ha ha ha...." Ketiganya meledakan tawa di pemakaman.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang bukan berasasl dari ketigannya..."Ih ih ih ih...." 
Sontak mereka tercerai berai dan lari tunggang langgang meninggalkan area pemakaman.
"Sandal gw ketinggalan bro...." Rahmat sangat ketakutan.

Created By. Damar Prasetya 2016

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Semoga bermanfaat.